maaf, lagi-lagi postingan dari blog seseorang.
Nevermind the title!
Terdengar seperti film low budget tahun 90an yang dibintangi Pat Morita (also famous as O’Hara) .
Adalah sebuah hobby baru saya; mengunjungi pasar loak se-Bandung Raya.
Menjadi hobby karena ada absurdity expenditure yang saya siapkan saat melihat barang2 “ajaib” yang saya temui disana. Kenapa absurd karena sifat barangnya yang miskin fungsi dan tidak pula sampai pada taraf estetis secara visual, tapi banyak juga yang menarik untuk dimiliki.
Ok, sebagai ilustrasi awal, here’s the story…
Untuk saudara-saudaraku yang kesehariannya akrab dengan berbagai kemudahan secara finansial sehingga kebutuhan sehari-hari bisa dipenuhi dengan cara membeli barang baru di toko mungkin kurang “ngeh” dengan keberadaan pasar loak di Bandung. Apalagi lokasinya juga yang memang agak “nyingcet”, walau terletak di pusat kota tapi rasanya daerah Astana Anyar yang sumpek, panas dan atmosfirnya mirip Brooklyn (rawan kejahatan) membuat orang-orang ilfill duluan untuk menyambanginya. Saya tidak menyalahkan kalian.
Ternyata sejauh mata memandang dari terminal Tegal Lega hingga ujung jalan Astana Anyar banyak orang-orang yang menggelar terpal dan memajang aneka barang usang yang tak terduga varian-nya. Dari mulai onderdil motor/mobil, alat-alat listrik, pakaian dan sepatu, alat-alat rumahtangga, alat-alat elektronik vintage (turntables, tape solid state dan lain-lain), obat kuat, handphone, mesin tik, organ, mainan anak kecil, antena parabola, kura-kura mati, hingga barang yang kita bahkan tidak akan pernah bisa sepakat dengan aspek marketabilitasnya karena selain barangnya sudah kelewat jaman (dan tidak bisa naik kasta jadi barang antik) atau memang “teu penting weh buat dijual” misalnya disket bekas, cd bekas, batu baterai bekas dan macam2 lagi lah!.
Saya kemudian berpikir dan bergumam pada diri sendiri “ck,ck,ck… karunya teuing rakyat teh teu disakolakeun ku pemerintah!…. sampai2 disket bekas jaman Lotus dijual keneh!.”
Oh iya…saya pernah menemukan alat kedokteran semacam x-ray scanner dan pas saya tanya si tukang jualnya nggak tau itu barang apa,…and IT’S HAPPEN ALL THE TIME!.
Maaf kalau terkesan arogan. Tapi begitulah yang ada di kepala saya; komentar2 satir dan tentu saja rasa iba.
Saya pernah menyaksikan transaksi seorang bapak dengan penjual. Si bapak yang membonceng anaknya yang berseragam SMP turun dari bekjul kemudian berusaha menawarkan barang yang dibawanya di dalam tas pada pedagang; tatakan gelas, obeng dan sebundel komik religius terbitan M.A. Arif (hikayat nabi, syurga dan neraka dll.) sambil membujuk supaya si pedagang mau menukarnya dengan pangeran diponegoro dan kembarannya (untuk teman2 yang daya tangkapnya kurang maksudnya DUIT LIMA RIBUANx2 sama dengan Sepuluh ribu rupiah!….doh!). Begitulah, selain menjual ternyata terima beli juga.
Kawan saya Anto, selera belanjanya seperti ibu-ibu,….bulan kemarin saja dia membeli coffee maker, microwave dan kompor gas, kalau lagi ada uang lebih dia beli barang antik seperti jam, asbak atau pemantik.
Saya mah agak freak dan childish, senang beli mainan SD, robot-robotan yang di dadanya ada TV (pokoknya hadiah sunat anak2 jaman dulu), luch box, dummies, mobil2an polisi. Lucunya mainan bukan sekedar mainan tapi memang mainan vintage yang bahkan kalian mungkin pernah miliki saat kalian kecil.
“HEY,…i have my Megatron back!”.
Untuk para musisi disana banyak keyboard2 cina murahan, efek gitar (kalau beruntung), amplifier, kaset2 tua, piringan hitam dll.
Oh iya ada barang lucu!…
bentuknya seperti MP3 player, bisa membunyikan mantra tibet (ada 9 bank mantra), ada line out buat earphone (maksudnya biar bisa didengerin di angkot) wiiiieeeerrrrrd as fuck.
Untuk para fashionistas (yeah right!). Tersedia baju2 ala c-mol dan here’s the surprise….kalau malam Astana Anyar menjelma menjadi Taman Puring!!!! it’s a SHOES HEAVEN!!!!! barang-barang reject, sisa export dan tentu saja second hand juga ada!.
Berkecamuklah seluruh praduga disana ada suudzhon juga saat kepikiran “hmmmmm,…banyak barang curian kali yaa disini”. Ada perasan miris yang berbuntut kalimat syukur bahwa saya masih bisa mengenyam pendidikan lumayan dan hidup berkecukupan atau setidaknya masih mengalir ide2 usaha yang lebih wild!. Selebihnya mah have fun and shop till you drop!.
Soal korelasi dengan judul; pertanggungjawabannya begini…
“KALAU Ninja dituntut bisa menggunakan alat apapun untuk mempertahankan diri (sebagai senjata). Maka para pedagang di Astana Anyar harus bisa menjual APAPUN untuk bertahan hidup!”
Saat Anto bertanya, “Dang, urang2 bisa teu nya dagang didieu?”… Saya jawab “HELL Yeah!… bongkar weh imah maneh…sagala anu aya di jero imah amparkeun!!!”.
main atuh lah kesana,… kali aja kita bisa ketemu. NAON DEUIH?!?!
oh iya jangan berpikir terlalu keras saat kamu masih menemukan batu baterai usang dijual!.
There are so many thing in this life should left unfigured!
– taken from deni gedang’s blog–
penasaran ama blog aslinya???? hehehe….
postingan ini di copy paste atas izin dari penulis…